Rating Thread:
  • 0 Memberi Suara - 0 Rata-rata
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
NAFSUKU TERLAMPIASKAN
#1
[Gambar: Cerita-Sex-Terbaru-Ibu-Maya-335x425.jpg]

NAFSUKU TERLAMPIASKAN - Setengah busana yang tetap di pakai oleh Nisa denga posisi kedua tangannya memeleuk lututnya, terkesan
kedua paha yang putih serta mulus terpampang terkesan juga memek yang tersemat dari bulu bulu kecilnya
yang nampak baru di cukur.

Dengan nada yang beringas serta tatapan yang ingin dirinya berbisik di kupingku “Masukkkkanlah juga kak, aku
juga ingin merasakan kenikmatan tersebut”??
Tapi aku hanya diam dengan isyarat tubuhku dirinya telah memahami kita telah membuka pakaian tahap bawah,
tak selang berbagai lama aku serta Nisa bergelut di pojokan dengan penuh nafsu aku mainkan memeknya, dia
membalas dengan tangannya mendorong ke dalam supaya cepat bersetubuh.

Tubuhnya terasa panas serta berkobar oleh gairah, bertubi-tubi kuciumi leher, pundak serta buah dadanya
yang kenyal serta besar itu. Ia hanya melenguh-lenguh melepas nafasnya yang menderu. Setiap remasan serta 
kuluman… diiringi dengan erangan penuh kenikmatan.

Tanpa kusuruh ia membuka sebagian kancing bajunya. Menampakkan onggokan buah dada yang membulat serta
putih. Tanpa membuka tali beha ia mengeluarkan buah dadanya itu serta mengasongkannya ke mulutku.

Dengan rakus kukulum buah dada besar Nisa sepenuh mulutku. Ia mengerang antara sakit serta enak. Nafasku
pum terus tersendat, hidungku berbagai kali terbenam ke bulatan kenyal serta hangat itu.

Puncak dadanya basah oleh air liurku yang meluap sebab nafsu. Licin serta agak sulit meraih puting
susunya yang mungil kemerahan itu. Jelas sekali kulihat proses peregangannya. Semula puting susu itu  Agen Domino qq
terbenam, tetapi dalam sekejap saja dirinya keluar menonjol serta mengeras.

Nisa tahu sulit mengulumnya tanpa memegang sebab aku mencengkram erat leher serta pinggang gadis itu.
Tanpa menantikan waktu ia memegangi buah dadanya serta mengarahkan putingnya ke mulutku.

Aku pun mengulumnya semacam bayi yang kehausan. Mengulum serta menyedot hingga terdengar berbunyi
mendecap-decap. Kulihat gadis itu, dalam sayu matanya merasakan kenikmatan, bibirnya tersungging
senyuman serta tawa kecil.

“Gigit sedikit, Kak.” pintanya padaku.

Aku menuruti kemauannya, dengan gigiku kugigit sedikit puting susunya.

“Aih….” Jeritnya lirih sambil menggigit bibir.

Barangkali ia tengah merasakan sensasi rangsangan nikmat menarik di tahap itu. Kurasakan tubuhnya
melunglai menahan nikmat.

Kemudian tubuh kita saling mendekap terus rapat. Gairah serta rangsangan nikmat menjalar serta memompa
alirah darah terus kencang.

Secara naluriah aku menyelusuri tubuh sintal Nisa. Mulai dari leher, terus ke punggung, meremas daging
hangat di pinggul… terus ke tahap bawah. Akhirnya menyelip di antara paha. Gadis itu membuka pahanya
sedikit, mengizinkan tanganku menggerayangi daerah itu.

Dalam pelukan erat, tanganku mencoba masuk…

“ehm.. ” tahap itu terasa hangat serta basah.

Nisa menggeser pantatnya sedikit. Kedua matanya memejam sembari menggigit bibir, desah-desah halus
keluar tidak tertahankan. Detak jantungku terus kencang ketika kubayangkakn apa yang terjadi di’sana’.

Gadisku menggelinjang, nafasnya sesekali tertahan, sesekali ia semacam menerawang, apa yang dia
harapkan? Aku tahu, dirinya mengharapkan itu, dirinya mendorong-dorongkan pantatnya ke depan, supaya tahap itu
lebih tersentuh oleh jemariku.

Dengan penuh arti aku pun turun… dari leher… buah dada.. wajahku terseret ke bawah, menikmati
setiap lekuk liku tubuhnya yang hangat. Setiap sentuhan serta gesekan memunculkan rintihan lirih dari
mulutnya. Wajahnya menengadah, matanya setengah terpejam, bibir agak terbuka, serta sedikit air liur
menetes dari salah satu sudutnya.

“Teruskan, kak… jangan hentikan..!” pintanya.

“Puaskan aku….?” katanya lagi tanpa rasa sungkan.

Yah, tidak ada rahasia di antara kami. Apa yang dirinya inginkan untuk memuaskan hasratnya, tentu dirinya minta,
kapan saja kita berjumpa. Begitu pula aku… kalau lagi pingin, dirinya tentu kasih.

Perlahan aku menyusuri tubuhnya ke tahap bawah. Kini aku telah di atas perutnya yang mulus. Aku
bermain-main sebentar di sana. seluruh tubuh Nisa terbukti sangat menggairahkan. Tidak ada lekuk
tubuhnya yang tidak indah. Aku sangat menikmati semuanya.

Tiba-tiba Nisa memegang kepalaku, meremas sedikit rambutku serta mendorong kepalaku ke bawah.

“Ayo, Kak, udah gak tahan nih..! Jangan di situ aja dong….Aih..” Aku menurut….

Dulu aku bilang aku ingin merasakan serta menjilati kemaluannya, dirinya bilang faktor itu menjijikkan. Dalam
kondisi terangsang dirinya sangat mengharapkanya. Sesampai di tahap itu… aku terpana menyaksikan
pemandangan indah terbentang cocok di depan mataku.

Setumpuk daging berwarna kemerahan berkilat di lubang-lubangnya …Bagian itu, bibir kemaluan Nisa yang
merah serta basah dipenuhi cecairan lendir yang bening. Dengan kedua jari telunjuk ku buka lubang itu
lebih lebar… Klentitnya menyembul… nampak berkedut sebab rangsangan nikmat tidak terkira.

Berkali-kali ia berkedut… setiap denyutan dibarengi dengan nafas serta rintih tertahan gadis itu. Aku
memandang ke atas. Ke arah payudaranya yang terbuka, putingnya terus mengeras. Nafasnya terengah-
engah, buah dada Nisa yang putih itu nampak naik turun dengan cepat.

Kulihat lagi kemaluan gadisku itu… terus merah serta merekah. Kubuka lagi dengan dua telunjukku…
cairan kental pun mengalir deras. Meluap serta merembes hingga ke sela paha, persis semacam orang yang
sedang ngiler.

Cairan itu terus mengalir perlahan… hingga ke arah anus. Kemudian perlahan berkumpul serta akhirnya
menitik ke lantai. Terus lama terus tidak sedikit titik-titik lendir bening yang jatuh di lantai kamar
itu.

Terasa ia merenggut rambutku… serta menekankan kepalaku ke arah vaginanya yang sedang terangsang itu.
Aku pun terus bernafsu…. Dengan penuh semangat aku pun mulai mengulum serta menjilati seluruh sudut
kemaluan Nisa…

“Ahh…. Ahhhh… nikmat sekali, Kak!” Nisa merintih,

tubuhnya menegang, cengkramannya di kepalaku terus kuat. Pahanya mengempot menekan ke arah mukaku,
sementara kemaluannya terus merah serta penuh dengan lendir yang sangat licin.

Aku pun terus dalam menusuk-nusukkan lidahku ke liang senggamanya. Berbagai kali klentitnya
tersentuh oleh ujung gigiku, setiap sentuhan memberi pengaruh yang hebat.

Gadis itu melolong menahan nikmat… aku terus menyelusuri tahap terdalam vaginanya. Oh… hangat serta
sangat-sangat basah. Tidak dapat kubayangkan kenikmatan apa yang dirasakannya saat ini. siapa tahu sama
nikmatnya dengan rangsangan yang kuperoleh dari kemaluanku yang juga telah mengeras sedari tadi.

Rasanya sangat nikmat serta tergelitik khususnya di tahap pangkal… rasanya ingin aku melepaskan nikmat
di saat itu juga. Tapi aku wajib menyelesaikan permainan awal ini dulu, gadis ini minta untuk segera
di tuntaskan.

Terus aku memainkan kemaluannya, terus ia mengempot serta menekankan kepalaku ke arahnya. Sesekali
aku menengadah menatap wajahnya yang merah. Tampak ia menghilangkan air liurnya yang mengucur dengan
lidahnya yang merah itu. Tiba-tiba ia tertawa mengikik… semacam ada yang lucu. Ia mengusap wajahku
yang bergelimang cairan vaginanya. Sambil memandangku penuh pengertian.

“Lagi, Kak” pintanya.

Aku mengulangi lagi kegiatan itu, ia pun kembali merintih-rintih menahan rangsangan luar biasa itu di
kemaluannya. Berbagai kali klentit itu kusentuh dengan ujung gigi…. Tiba saatnya, dirinya telah hingga
mendekati puncak. Nafas terus memburu serta tubuhnya menegang luar biasa berbagai kali. Tanpa sungkan lagi,
ia mengeluarkan lolongan penuh kenikmatan ketika rasa enak itu tiba…

“Ohhhhh… hhhh…ahhhhhhhh…” jeritnya lepas.

“Enak sekali…”

Pantatnya mengempot ke depan setiap denyutan nikmat itu menyergap vaginanya… serta setiap denyutan
diiringi dengan keluarnya cairan yang lebih tidak sedikit lagi. Berbagai cairan itu bagai menyembur dari
liang senggamanya, aku mundur sebentar, menonton bagaimana bentuknya vagina yang sedang mengalami
orgasme.

Tegang, merah, basah… berkedut-kedut, cairan pun membanjir hingga ke kedua pahanya….. mengalir dengan
tidak sedikitnya hingga ke mata kaki… Aku pun tidak tahan menonton keadaan itu, cepat aku berdiri…
mengasongkan kemaluanku yang telah tegang itu ke arahnya.

Ia memelukku, terasa tubuhnya bersimbah peluh, wajahnya yang memerah sebab baru melepas nikmat itu
disusupkannya ke leherku. Memelukku terus kuat…

“Puaskanlah dirimu, Kak!”

Aku pun mendekap tubuh sintal itu terus erat. Rasa nikmat berkecamuk di titik kemaluanku. Terasa
terus menegang serta mengeras…. Tapi aku ingin merasakan sensasi yang lain.

Kuturunkan kepala gadis itu ke tahap itu. Ia menurut, perlahan ia menyusuri tubuhku dari dada terus
turun ke bawah.

Semacam yang kuperbuat tadi, mulutnya menciumi perutku serta terus turun… sesampai di tahap itu ia
memandangi penis yang selagi ini rutin dirinya bahagiai. Ia menengadah.. memandangku dengan senyuman
nakal….

“Besar sekali punyamu, Kak! Ini untukku untuk selamanya,” katanya sambil mengelus serta mulai meremas
pangkalnya.

Aku terkesiap… jemari lembut itu mulai mengocok-ngocok kemaluanku dengan penuh cinta.

“Nikmatilah, Kak! Aku ingin kalian menikmati serta merasakan kenikmatan semacam yang aku rasakan, kamu
milikku, tidak boleh untuk orang lain….”

Aku mengangguk sambil tersenyum, perempuan kalau telah cinta serta ingin tentu mau meperbuat apa saja.

Perlahan ia mulai mengocok pengkal kemaluanku… sesekali ia mengecup tahap kepalanya yang semacam topi
baja itu. Lembut serta penuh kasih sayang. Berbagai kali pula ia menempelkannya di pipi sambil matanya
terpejam.

“Ohh.. inilah yang aku impikan selagi ini. Kepunyaanku milik kekasihku yang perkasa…”
Kemudian ia menambah kocokannya, kedua jemari tangan menggenggam serta meremas-remas memunculkan
rasa geli menarik.

Kemaluanku terus menegang menahan nikmat.. keras serta enak. Gadis itu sangat lihai mempermainkan
jemarinya, seolah dirinya turut merasakan apa yang kurasakan. Sambil terus jongkok serta menciumi pangkal
kemaluanku jemarinya terus juga digesekkannya.

Akhirny aku pun tidak tahan lagi… aku merenggut rambut di kepalanya, tubuhku pun menegang. Aku mendorong
pantatku ke depan, pahaku mengejang menahan sesuatu yang bakal kukeluarkan.
“Nisa…” kataku sambil mencengkram rambutnya.

Ia menatapku, wajahnya cocok di ujung kemaluanku yang sedang dicengkeramnya. Gadis itu tersenyum
kecil…. Dirinya bahagia menatapku yang sedang dalam puncak nikmat.

Maka, sambil setengah terpejam, aku pun mengeluarkan segalanya, kemaluanku meledak dalam genggaman
tangan Nisa, menyemburkan air manikyang sangat tidak sedikit, tentang seluruh muka gadis itu. Sebagian ada
yang menyembur serta kena ke rambutnya. Kelopak mata gadis itu berkedip menahan serangan air mani yang
mendarat di wajahnya…

“Hhhh…hhhh.hh,” perlahan nafasku mulai teratur… puncak itu telah hingga, nikmat tidak terlukiskan kata-
kata.

Nisa bangkit berdiri serta menuju pojok ruangan. Paha serta pantat mulusnya nampak gemulai ketika ia
melangkah. Gadis itu mengambil baju, mengusapkannya di wajah yang penuh cairan mani. Menoleh ke arahku
sambil tersenyum, kemudian berlangsung ke arahku. Merentangkan kedua tangan, memelukku serta menempelkan
pipinya di pipiku.

“Enak ya, Kak”

Aku mengangguk, memeluk tubuh yang tetap bersimbah peluh itu. Memandang matanya lekat-lekat. Ia
membalas tatapanku, “Aku sangat mencintaimu, Kak. Kaulah milikku serta milikilah aku selamanya…”

Entah berapa lama kami berpelukan sambil berdiri. Ketika angin berdesir melewati kisi-kisi jendela,
terasa semuanya telah mengendur. Jiwa serta raga telah terpuaskan. Kini waktunya merapikan pakaian,
duduk mengobrol di ruang tamu.

Sebentar lagi kawan-kawan kost kekasihku bakal pulang. Kami bakal mengobrol di ruang tamu, bercanda,
semacam tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.

Tiba-tiba gadis itu berdiri semacam tersentak kaget. Ia memandangku sambil tersenyum kecil. Aku tak
mengerti ketika ia menunjuk dengan aspek matanya ke arah lantai. Ha ha ha… hampir lupa, cairan itu
masih berserak di lantai. Buru-buru ia berangkat ke belakang serta kembali dengan secarik kain. Perlahan dia
lap lendir-lendir itu dengan kain tadi.

“Ini punyaku…” katanya sambil menunjuk setitik cairan.

“Dan ini punyamu, Kak!” hehe aku tersenyum.

“Dari mana kalian membedakan keduanya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok. Seraya bangkit serta
tertawa…

“Punya perempuan serta laki-laki jelas beda. Punyaku lebih bening…”

“Tapi punyaku lebih enak kan?” kataku bercanda.

“Iya dong sayang…. ” katanya seraya menghampiriku serta mengusap wajahku penuh kasih serta sayang.

“lain kali kami masukin ya . Kak. Aku ingin lebih menikmatinya..” bisik gadis itu,

“Aku ikhlas demi Kakak…” bisiknya lagi di telingaku.

Ia melingkarkan tangannya di leherku, aku pun memeluk tubuh sintal serta bermandi peluh itu lebih erat.

Malam belum begitu larut ketika aku serta Liani sedang asyik bercinta di ruang tamu rumah kostnya. Tubuh
montok gadis itu terbaring pasrah di atas dipan sederhana yang terletak di salah satu aspek ruangan.
Sedari tadi punyaku keluar masuk menyelusuri seluruh lipatan kemaluan gadis itu.

Berkali-kali gadis itu menggeram menahan rasa. Lipatan basah serta hangat itu terasa sesekali menyempit.
Dia sungguh menikmatinya gesekan-gesekan itu, aku juga. Yang hebatnya, gadis satu ini semacamnya tidak
memerlukan foreplay.

Kami langsung meperbuatnya begitu saja. Lumayan dengan tatapan mata, kami telah tahu apa yang kami
inginkan, kepuasan di malam yang basah oleh rintik hujan ini.

Jam delapan malam aku ada janji dengan Nisa kekasihku untuk berjumpa di rumah kost khusus putri ini.
Padahal malam ini bukan malam minggu semacam biasanya kami berjumpa. Tapi dirinya sms aku minta ketemuan,
ada yang penting katanya. Aku paham yang penting itu apa

Yang aku tidak mengerti ketika aku tiba di rumah kost itu, nyatanya dirinya tidak ada. Liani kawan sekost
nya yang menyambutku. Dirinya suruh aku masuk serta ketika kutanyakan kemana Nisa, dirinya bilang sedang keluar
sebentar, ada butuh serta dirinya berangkat dengan Silvi kawan sekampungnya.

Dia bilang, kata Liani, suruh tunggu saja nggak bakal lama kok. Liani, gadis lain desa yang bertubuh
tinggi semampai berkulit putih serta berambut panjang itu menyuruhku duduk.

Tak lama dirinya berangkat ke belakang , mau bikin minum katanya. Aku manut saja seraya mengambil sebatang
rokok. Diam-diam kerhatikan tubuh gadis itu dari belakang ketika berlalu. Lumayan lumayan, tinggi serta
lumayan montok.

Apalagi malam ini dirinya hanya memakai sehelai baju tidur sebatas lutut tanpa lengan. Menampakkan
gumapalan-gumpalan indah khas gadis desa yang terbiasa bekerja lumayan keras.

Tak terasa aku menghela nafas sambil menyaksikan pemandangan tubuh Liani yang gemulai menuju ke ruang
belakang yang agak gelap itu.

Pantatnya lumayan besar serta berisi, sementara kedua betis tampak putih mulus dengan tumitnya yang
kemerahan. Kalau tidak ingat Nisa kekasihku, mungkin gadis ini pun telah kupacari, tapi katanya dia
telah punya pacar, entah siapa aku belum sempat ketemu dengan lelaki yang katanya jadi pacarnya itu.

Tak lama kemudian gadis itu kembali sambil membawa nampan dengan segelas air putih.
“Maaf, Bang, cuma ini yang aku sediakan,” katanya sambil setengah embungkuk meletakkan gelas itu di
meja di hadapanku.

Tanpa sadar belahan dada gaun tidur gadis itu agak melorot, menampakkan dua bulatan putih yang mau
tidak mau merasuk ke mataku. Kuakui tubuhnya sangat sintal. Mesikipun tinggi semampai, tubuh itu tampak
padat serta berisi. Buah dadanya tampak menantang tatkala ia berdiri.

Liani mengibas-ngibaskan rambut panjangnya di depanku. Bibirnya tersenyum.

“Ada butuh apa, Bang? Kok tumben nggak malam mingguan ke sininya?” tanyanya sambil membenahi rambutnya
yang indah itu. Ia menatapku dari aspek matanya.

Gadis yang satu ini terbukti terbuktigilku dengan sebutan ‘Bang’, tidak semacam yang lain terbuktigilku
’Kakak’. Aduhai tubuhmu Liani sangat sintal serta lagak lagumu malam ini semacam bukan terhadap orang lain
saja.

Gadis itu duduk dengan santainya di depanku sembari memegangi nampan di perutnya. Tidak ada canggung
sedikit pun ketika membawa kedua kakinya serta membiarkan gaunnya yang selutut itu berminat hingga ke
batas paha. Aku menelan air liur ku sendiri. Di rumah kost yang sepi ini hanya kita berdua sementara
Nisa serta Silvi entah ke mana

“Masih lama mereka kembali, Liani?” tanyaku asal saja sambil meraih gelas minumku.

Gadis itu menatapku lurus-lurus di mataku. Entah apa yang ada dalam benaknya malam ini.

“Entah.” Katanya sambil menggeliat, merentangkan tangannya, kedua pangkal lengannya terangkat ke atas
menampakkan ketiaknya yang bersih.

“Mungkin dua puluh menit alias setengah jam lagi mereka kembali. ada butuh, Bang.” Gadis itu menguap
dengan enaknya di depanku.

Kemudian ia menengadah menampakkan lehernya yang putih mulus itu. Hmm.. gadis ini agak-agak mirip
Chinese meski sebetulnya bukan. Tapi terus terang aku lumayan berminat dengan kesintalannya.

“Kenapa gitu, Bang? Bosen ya… Nggak sabar ingin cepat ketemu.”

“Tahu aja perasaan orang…” jawabku sambil tertawa kecil.

“Hmm… tahu dong. Nggak sabar pengen… ”

“Pengen apa, hayo!”

“Pengen … ‘itu’ ya… ” katanya nakal sambil terkekeh.

“Itu apa? Itu … kalau itu kalian juga punya kan?” kataku agak sembrono.

Gadis itu merapikan posisi duduknya agak cepat. Tapi kemudian dirinya santai lagi sambil terus menggeliat,
seolah ada kepenatan yang hendak dilepaskan dari tubuhnya itu. Dua gundukan dada itu menyembul dari
balik gaun tidurnya yang berwarna biru itu. Tampak tali behanya yang berwarna hitam.

“Ngeliatin apa sih?” katanya sambil membenahi tali kutang yang agak melorot di bahunya.

“Nggak.” Jawabku sekenanya.

Ku lihat ia menatapku tajam. Aku balas menatap. Wajahnya tampak memerah. Aku menahan nafas. Apa
rasanya gadis ini? apa bedanya dengan Nisa kekasihku?

Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat begitu saja. Seolah dunia telah jungkir balik. Tidak ingat lagi
dengan Nisa, dengan Silvi kawannya yang siapa tahu bakal pulang. Aku pun bangkit, meraih tangan gadis
itu. Liani diam saja, tapi dirinya tersenyum sambil tertawa sedikit.

“Nggak ada waktu, Kak…” katanya pelan tapi membalas remasan tanganku.

Kuselipkan jemariku di jemarinya, dirinya membalas. Matanya menatapku seolah berkata, kalau ingin
meperbuatnya perbuatlah kini juga mumpung Nisa serta Silvi belum pulang. Serta itu tidak persoalan
apakah mereka bakal tahu alias tidak, aku pandai menjaga rahasia.

Bisikan-bisikan itu mengiang di telingaku terus membikin gairahku bangkit. Apalagi apabila kulihat tubuh
Liani yang montok serta dadanya yang naik turun menahan nafas yang mulai terengah.

Terus lama remasan terus erat. Tubuh kita terus merapat serta terasa tubuh gadis itu memanas.
Entah oleh nafsu entah oleh hasrat yang tertahan. Tidak, aku tidak bakal menyia-nyiakan kehangatan yang
disuguhkan gadis ini, meski bukan kekasihku, tapi… perselingkuhan rutin terasa nikmat.

Dia terbukti berbagai tahun lebih tua dari gadisku, cenderung lebih dewasa, tapi tidak kusangka dia
menyimpan kehangatan serta hasrat memadu cinta yang begitu terpendam serta panasnya memancar di malam ini.

“Kak… di dipan itu aja, yuk.” Ajaknya.

Senyumannya dari wajahnya yang memerah kelihatan agak genit. Aku setuju, meski pun cuma dipan beralas
kasur tipis jadilah. Yang penting aku dapat menikmati tubuhnya malam ini.

Maka, semacam orang kesetanan sambil berpeluk erat kita melangkah ke arah dipan. Di pinggir dipan ia
melepaskan pelukanku, serta perlahan tapi tentu menurunkan gaun tidurnya.

Aku hanya dapat memandang mengagumi tubuhnya yang putih mulus serta penuh padat berisi itu. Sementara
menurunkan celana dalamnya ia memandangku sembari menatap ke arah bawah. Oh, aku belum membuka celana
panjangku, terlalu mengagumi kemolekannya

Tak lama kemudian kita telah berpelukan hampir tanpa busana. Dirinya berada di bawah dalam posisi
tradisional. Siap serta menanti untuk dimasuki oleh lelaki yang bukan kekasihnya ini.

Kalau Nisa memerlukan fore play yang lumayan lama sebelum terbangkitkan, dirinya siapa tahu tidak memerlukan
itu. Atau…

“Kalau malam begini… aku rutin membayangkan bersamamu, Bang”. Bisiknya di telinga, kedua tangan
melingkar erat di leherku. Pipinya menempel erat dipipiku.

“Benarkah?” jawabku sambil mencium pipi hangat itu. Liani mengangguk.

“Kadang bayanganmu begitui jelas seolah merasuki tubuhku…. Kalau begitu aku suka… emmh.. basah, Bang.”

“Oh, ya?”

“Iya… coba kalian rasakan, Bang.” Katanya sambil menggerakkan pantatnya, menggesekkan tumpukan
kemaluannya di batang penisku.

Ya, terasa hangat serta basan…

“Sebelum kalian datang, aku telah membayangkan dirimu.. emhhmmm…”

tanpa sadar ‘dia’ pun … telah basah… Aku mencium telinga Liani, dirinya semacam merinding., tubuhnya
menggelinjang sebab merinding kegelian.

“Kadang…” bisiknya lagi,

“Keluar tidak sedikit sekali, hingga membasahi celanaku… kini juga udah begitu, Bang.”

Ya, aku rasakan itu, sangat hangat serta sangat basah. Penasaran aku menyelusupkan jemariku ke daerah
itu. Ya ampun! Semacamnya aku memasukkan tanganku ke seember lumpur yang hangat. Tidak disangka, gadis
pendiam ini nyatanya menyimpan bara begitu panas. Suatu  rahasia yang selagi ini dirinya pendam…

“Masukkan punyamu, Bang!” pintanya …

“Aku udah gak tahan lagi, sedari tadi aku menahan rasa terhadapmu… jangan sia-siakan malam ini… walau
sebentar, aku bakal puas….”

Gadis itu menggelinjang sekali lagi, membetulkan posisi berbaringnya serta membuka pahanya sedikit lebih
lebar supaya mudah aku menggelosorkan kemaluanku ke liang senggamanya yang hangat itu.
Terasa meluncur dengan lancar memasuki kemaluan gadis itu.

Terus masuk serta membenam sambil ke lubang yang paling dalam. Gadis itu mengetatkan pahanya serta
pantatnya mulai bergoyang ke kiri da ke kanan.

Tubuhnya terasa terus memanas. Pelukannya begitu erat serta buah dadanya yang menempel menekan ke
dadaku. Dirinya telah begitu bernafsu, nafsu yang di pendam lama serta ingin di lepaskan dalam pelukanku
malam ini juga.

Terus terang di menit-menit penuh cinta itu aku tidak ingat lagi dengan Nisa. Gadis ini butuh
dipuaskan. Hasrat yang telah menyeruak tidak dapat lagi di tarik surut ke dalam. Segala rem telah di
lepas serta kita pun melayang tanpa kendali menikmati semuanya malam ini….

Kurasa hujan di luar terus deras. Titik air yang berjuta-juta itu seolah berlomba terjun ke bumi
memunculkan suara gemuruh tidak henti-hentinya. Tapi gemuruh itu tidak sedahsyat gemuruh nafsu kami
berdua, aku serta Liani yang tengah menikmati cinta.

Entah telah berapa kali batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. Telah berapa kali pula dia
menggepit-gepit serta memelukku dengan erat dengan kedua tangannya. Entah berapa kali ia terengah serta
menggelinjang menggeram penuh nikmat.

“Hhhhhh… ehhhhhhh..hhhhhh….” erangnya setiap kumainkan serta kutekan pantatku ke kemaluannya. Luar
biasa, setiap tekanan ke bawah di balasnya dengan tekanan ke atas.
Kurasa telah sepuluh menit aku mengayun pinggul di atas tubuhnya. Liang kemaluannya terasa terus
rapat serta sangat licin, mencengkram kuat batang kemaluanku yagn menegang.

Aku kendurkan sedikit gerakanku. Mengalihkan perhatian ke tubuh tahap atas. Liani mengerti, ia
meregangkan tubuhnya hebat kepalanya ke belakang, membiarkan buah dada besar yang putih berkeringat
itu meenyeruak dari pelukanku. Buah dada gadis desa yang besar serta kenyal, tidak semacam payudara
anak-anak kota yang besar tapi loyo….

Dua gumpalan kenyal itu pun kusergap dengan mulutku. Ku lahap serta kukunyah-kunyah sepuas hati. Putting
susunya yang merah itu ku kulum serta kuhisap-hisap sambil kugigit sedikit.
Hanya sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan….

“Ohhh.. geli, Bang!” aku terus mengulum…. Berganti ke kiri serta ke kanan, kemudian tanganku pun
meremas-remas pangkal payudara Liani dengan gemas. Sangat kenyal, hangat serta enak rasanya.

“Aku udah gak tahan lagi… Bang,” rintihnya lirih, tubuhnya terus panas serta berkeringat, tubuhku juga
sama.

Dalam hawa malam yang lumayan sejuk sebab hujan itu seolah tubuh kita mengeluarkan uap. Tubuh bugil
bermandi keringat yang mengebulkan asap nafsu birahi tidak tertahankan.

Seusai puas dengan buah dada kenyal itu, aku memeluk punggung gadis itu. Kurasa dirinya mengangkat
lututnya, menggepitnya di pantatku. Kemudian ia menurunkan kedua tangannya serta memelukku di pinggang.

“Tekan-tekan lagi, Bang.” pintanya.

Aku juga telah pingin merasakan gesekan kemaluannyai. Sambil saling berpagut erat aku melambaikan lagi
pantatku di atas rengakahan pahanya yang montok itu. Dirinya pun terus menggepitk-gepitkan kakinya.

Sekarang kita konsentrasi ke setiap gesekan, setiap lipatan, setiap senti dari liang kemaluan Liani.
Malam ini sunguh hanya milik kita berdua. Gesekan-gesekan itu terus lama terus berirama. Sementara
Liani meperbuat aksi yang meningkatkan kenikmatan, ia menggepit… lalu menahan. Gepit tahan gepit tahan….
Oh tidak terlukiskan enaknya bercinta dengan gadis ini.

Gesekan itu terus intens kita perbuat. Hingga-sampai kita tidak sadar kalau hujan telah berhenti.
Malam di luar terasa hening…. Tapi di atas dipan yang berbunyi kriak-kriuk ini dua tubuh saling
memompa berpacu mengejar waktu. Takut kalau Nisa serta Silvi keburu pulang.

Aku pun mempercepat ayunanku… jadi di malam yang menjadi sunyi ini terdengar jelas suara penisku
yang keluar masuk ke kemaluan Liani. Beradu rsa dalam limpahan cairan kemaluan Liani..
‘Crekk.. Crekk.. Crekkk. Crek…Crekkk.. Crrek….

Kejantananku naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan gadis itu. Bunyinya terdengar jelas
sekali di telinga kita berdua. Sesekali kutekan bakal kuat, gadis itu membiarkan serta menerima tekanan
itu, menggeolkan pantatnya berkali-kali supaya kelentitnya lebih tersentuh pangkal atas kemaluanku yang
keras.

“Tekan terus, Bang.. aihh…”

Aku menekan lagi sambil menggerakkan pantat ke kiri serta ke kanan. Mungkin dirinya merasa gatal serta ingin
gatal itu digaSilvi hingga tuntas…. PenggaSilvinya merupakan batang kemaluanku yang dirinya cengkram serta dia
benamkan sedalam-dalamnya

“Ohhh..ohhhhhhhhh,” lolong gadis itu melepas nikmat.

Seluruh liang senggamanya berkedut-kedut dan sembari menggepit kuat. Tubuh Liani menggelinjang dan
menegang menahan rasa enak ketika ia mengeluarkan air mani kewanitanya.

“Eughhh…hhhhh… euuughhhhh….. ahhhhh… ” rintihnya sambil menyurupkan wajahnya ke leherku, lehernya
nafasnya menderu, air liur berceceran dari bibirnya yang merah.

Saat itulah aku pun bersiap hendak keluar dan menyemburkan kenikmatan di kemaluanku. Tapi sesuatu
menyebabkan aku berhenti …Masih dalam keadaan bersetubuh dengan Liani… ada sekelebt bayangan melintas.
Aku memandang dengan ujung mataku, di lantai tampak ada dua bayangan seperti diam terpaku. Aku pun
terkejut … bayangan siapa itu?

Perlahan kulihat wajah Liani yang matanya tetap setengah terpejam. Kemudian matanya perlahan terbuka…
Dia pun melihat bayangan itu dan menatap langsung ke ruang tengah. Samar-samar di bola matanya yang
hitam itu kulihat dua sosok berdiri menatap ke arah kami.

Itu bayangan Nisa dan Silvi! Silvianya telah berbagai menit tadi mereka berdiri di sana, menatap kami
yang sedang asyik memagut cinta. Apakah mereka tadi mendengar juga.. bunyi crek…crekk.crekk.. alat
kelamin kami yang sedang berkelindan? Entahlah, aku tidak berani membayangkan faktor itu.

Anehnya, walau pun Liani telah tahu keberadaan mereka, dirinya diam saja. Tidak memberi tanda bahwa
kekasihku dan kawannya telah pulang. Bahkan seolah membiarkan mereka melihat kami yang sedang
beradegan mesra di atas ranjang.

Terdengar bunyi deheman kecil, dehem khas suara perempuan. Seolah memaklumi kami yang tetap dalam
posisi senggama ini. hmmm… aku tahu itu suara Nisa, aku dapat membedakannya.

Sedetik dua detik aku tidak tahu apa yang wajib kulakukan, kemudian Liani melakukan sersuatu yang tidak
kuduga. Dirinya seperti mengayunkan tangan dari balik punggungku. Menyuruh kedua ‘adik’ kostnya itu masuk
ke kamar…

“Teruskanlah, Bang. Nggak apa-apa, kok….” Bisiknya di telingaku.

“Ngapain malu.. kami kan sedang enak, kalian enak aku enak…. Mereka juga tentu maklum….”

Oh, ya? Bercinta dengan orang yang bukan pacar, dan dilihat oleh mereka pula? Apa pula ini?Exibit kah
ini? Ya, telah! Aku gak pernah memikirkan sejauh itu. Kalau bagi Liani tidak apa-apa, dan Nisa dan
Silvi pun justru menikmati pemandangan ini…. kuteruskan saja.

Perlahan dua gadis itu berlalu, seperti tidak terjadi apa-apa, kecuali tawa kecil Silvi yang terdengar.
Aku memandangi mereka yang berangkat menjauh, tiba-tiba Nisa menoleh ke belakang. Dirinya menatap mataku
langsung, di bibirnya tersungging senyuman yang aneh … di situasi seperti ini… senyum yang tampak
nakal.

Aku tidak tahu apa bakal terjadi setelah ini, bagaimana hubunganku dengan Nisa? Bagaimana pula aku akan
menemui mereka seusai ‘permainan’ penuh keenakan ini? Tidak dapat lagi aku berlagak seperti seorang
lelaki yang setia hanya pada satu perempuan. Tapi tampaknya Nisa pun tidak keberatan apabila aku mengencani
kakak kostnya Liani.

Ah. Dunia ini terbukti aneh… di tempat yang tampaknya biasa-biasa saja nyatanya tersimpan bakat-bakat
cinta yang terpendam yang menanti untuk dikeluarkan dan dinikmati setiap lelaki seperti aku. Aku tak
tahu wajib bergembira atau… entahlah!

Aku meneruskan permainanku dengan Liani. Gadis itu telah hingga ke puncak syahwatnya… saat ini giliran
aku. Perlahan-lahan aku mulai memompa lagi … kemaluanku naik turun menggesek kemaluan Liani yang basah
itu. Bunyi crek.. crek.. crek.. creeeek… terdengar ke segenap ruangan.
Aku agak termangu mendengar suara itu… tidakkah bakal hingga ke telinga mereka berdua yang sekarang
telah ada di kamarnya?

“Terusin aja, Bang….. Kalo enak ngapain juga di berhentiin” bisik Liani seolah hendak menghilangkan
keraguanku.

Maka aku pun meneruskan lagi, hari ini dengan irama yang lebih cepat dan… tidak lama kemudian creett…
cretttt… sambil menekan aku keluarkan air maniku di dalam kemaluan Liani yang mencengkram erat itu. Oh
nikmatnya.

Berbagai menit telah berlalu. Setelah menghilangkan keringat di dadaku Liani mengenakan pakaiannya.
Kemudian sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia merapikan rambutnya yang kusut masai. Wajahnya tampak puas.
Sangat puas telah beroleh kenikmatan yang selagi ini didambakannya. Seraya membetulkan tali beha dan
menyempalkan payudara besarlnya ia mengatakan.

“Bang, aku masuk dulu ke dalam…. Kelak Nisa kusuruh keluar, ya!”

Aku hanya mengangguk mengiyakan, gadis itu pun bangkit dan berlalu dari hadapanku. Sementara aku duduk
termangu sambil menghisap sbatang rokok. Tidak lama kemudian Nisa keluar menemuiku, hari ini tidak
menggunakan busana yang dikenakannya tadi, tapi telah berganti dengan gaun tidurnya yang berwarna pink.
Bahannya yang halus menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi. Aku menelan ludah… tentu dirinya bakal marah
sebab kelakuan kami tadi.

Dia hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Tidak tampak tanda-tanda emarahan di sana. sejenak
dia hanya diam.. kemudian tiba-tiba dirinya bangkit dan ‘menyerbu’ ke arahku.

Melingkarkan tangannya di leherku dan menciumiku penuh nafsu. Aneh, dirinya tidak marah, bahkan seusai
melihat kami bercinta seolah nafsunya bergelora ingin dipuaskan juga.

“Nisa… maafkan.. aku telah…” belum pernah kuberakhirkan kalimatku dengan bernafsu dirinya mencari bibirku
dan menciuminya dengan garang.

Oh,… gelagapan aku dibuatnya. ceritasexterakhir.org Aku tidak tahu, apakah dirinya marah alias telah terangsang…. Aku balas
ciuman itu, lidahnya terjulur dan berjumpa dengan lidahku. Berbagai saat lamanya lidah kami berjalin
berkelindan seperti tidak mau lepas. Dengan rakus pula dirinya hirup air liurku, meneguk dan menelannya.
Seusai puas giliran aku yang menghisap cairan mulut itu. Seusai itu kami melepas ciuman dan saling
memandang selagi berbagai saat.

Tanpa tidak sedikit mengatakan-kata dirinya menurunkan gaunnya ke bawah, menampakkan dua gumpal buah dada yang tidak
menggunakan beha. Putting susunya meruncing dan tegang.

“Aku terangsang sekali melihat kalian berdua tadi…. ” katanya terengah sambil mengasongkan kedua
susunya ke arahku.

Aku pun menyambut, tangan kiriku meremas dan mulutku mengulum puting susu yang satunya. Tiba-tiba
gerakankuterhenti. Dengan wajah kaget Nisa menatapku heran. Aku lupa mematikan puntung rokok yang ku
hisap tadi. Gadis itu tersenyum dan kamipun melanjutkan permainan hangat ini. Buah dada besar montok
dan kenyal itu kukunyah sepuas hati.   Bandar Sakong

Nisa mendesah keenakan. Jemarinya mencengkram kepalaku, mengusutkan rambutku. Tetap dalam posisi duduk
ia mengangkang .. melepas gaunnya yang telah setengah terbuka…. Dirinya pun tidak bercelana dalam sehingga
gundukan vaginanya yang tebal dan tidak berambut itu merekah di depanku.

Cairan bening meluap keluar. Mengalir di sela-sela lubang kemaluannya. Di tidak pedulikannya. Dibiarkan
lendir bening itu mengalir…. Bahkan dirinya menyuruhku untuk memegangnya… jemariku menyelusup ke liang
senggama Nisa, hangat dan sangat basah oleh cairan pelicin.

Kusentuh klentitnya yang merah dengan ujung jemariku.

“Akhh….” Nisa melolong tertahan.

“Geli, Kak!” desahnya tersentak.

Kemudian sembari memeluk leherku, dan mencium keningku dirinya mengajakku ke dipan tempat aku dan Liani
tadi bercinta.

Tak tidak sedikit cingcong kurengkuh dan kugendong tubuh hangatnya ke dipan itu. Di sana dirinya kubaringkan.
Tapi ketika aku hendak membuka celana, tiba-tiba ia mendudukkan tubuhnya yang telah bugil itu. Aku
heran, apa yang bakal dirinya lakukan.

“Bukalah celanamu, Kak!” katanya tidak sabar sembari hebat resleting celana panjangku.

Setela memelorotkan celana dalamku, dengan sangat bernafsu ia memegangi pangkal kemaluanku yang
kembali menegang.

“Besar dan nikmat….” Seru Nisa sambil meremas-remas kemaluanku.

“Sekarang giliranku…” katanya agak keras.

Ia turun dari dipan dan berdiri di sampingku, di dorongnya dadaku ke arah dipan, menyuruhku berbaring
disana. Aku menurut. Seusai aku berbaring, Nisa pun menaikkan sebelah kakinya dan mengangkang di
atas. Perlahan dirinya menekuk tubuhnya dan memelukku dari atas.

“Masukkan, Kak.” Pintanya dengan nada gemas.

Ia memegang batang kelaminku itu dan memasukkannya ke dalam liang kemaluannya. Kemudian dengan agak
kasar dirinya menghenyakkan pantatnya ke bawah supaya kemaluanku masuk lebih dalam ke tubuhnya.

“Ehhhhh…. Hhhhh” desahnya kacau seperti anak kecil yang rakus menetek di susu ibunya.

Dalam posisi di atas dirinya menaik turunkan pantatnya dengan cepat… oh… batang kemaluanku di cengkram dan
di gesek-gesek seperti itu. Geli rasanya.

Posisi di bawah jarang aku lakukan…. Tapi hari ini aku menerima saja, sebab tadi telah cukup capek
meladeni Liani. Hari ini Nisa yang giat menekan-nekankan pantatnya, maksudnya supaya punyaku masuk
lebih dalam.

Sembari memelukku erat, ia terus mengempot-ngempotkan pantatnya. Bunyi crek crek crek terdengar lagi…
hari ini bahkan di tingkahi oleh jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut kekasihku.

Aku terus berbaring sembari meremas-remas pantatnya yang mulai berpeluh itu. Cairan vagina terasa
terus merembes dari kemaluan Nisa. Dirinya telah sangat terangsang. Liang kemaluannya sangat basah dan
panas. Sesekali ia menekan dan menahan. Seolah hendak melumat habis seluruh kemaluanku dengan
vaginanya. Terang saja aku pun terus keenakan.

Diam berbagai saat menahan tekanan, dirinya pun mengendurkan dan mengawali lagi gerakan naik turunnya. Aku
terus meremas-remas pantatnya. Dadanya yang kenyal itu menekan ke arah dadaku, hampir membikinku sesak
nafas. Tapi aku pasrah.. lha wong enak rasanya.

Selama sepuluh menit Nisa bergerak naik turun, nggak cape-cape kelihatannya. Tubuhnya terus basah
oleh keringat, bahkan wajahnya telah dipenuhi keringat sebesar-besar biji jagung. Sebagian mengalir ke
ujung hidung dan menitik menimpa wajahku. Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang tergerai..

Aku mencoba memiringkan kepala mencoba mengurangi titikan keringat di wajahku. Pada saat itulah
kembali aku terkesiap. Di ujung ruangan, di pintu kamar Nisa, tegak sesosok tubuh perempuan menatap
kami dengan matanya yang bulat

Mata besar milik Silvi, kawan sekost Nisa. Dirinya menatap kami tanpa berkedip. Tangan kanannya tertangkup
di dada. Sementara yang kiri tampak meremas-remas ujung gaun tidurnya yang di atas lutut.
Ketika kami saling memandang… dalam posisi Nisa tetap di atas serta asyik dengan empotan-empotannya.
Perlahan tangan kiri Silvi membawa ujung gaun merahnya. Terus terangkat ke atas menampakkan paha
gadisnya yang padat…

Entah sadar entah tidak gaun itu telah sedemikian terangkat, jadi aku dapat menonton celana dalam
yang tersingkap. Kemudian ia hebat pinggir celana dalam itu… menampakkan segumpal tumpukan daging
berbulu dengan lubang merah di tengahnya.

Ujung jemari menyentuh tahap tengah lubang itu. Menekannya serta memutar-mutarnya sedikit. Ya ampun…
kemudian dirinya menatapku.. dengan mata setengah terpejam.

Saat itulah Nisa menengadah…. Serta menyurukkan kepalanya ke leherku, memelukku kuat serta mulai mendesah
berkepanjangan. Pantatnya menekan kuat hingga seolah kemaluanku mau ditelannya hingga habis.

“Kak.. enak sekali.. ahh” terasa kemaluan Nisa berdenyut hebat, tubuhnya bergetar tidak kuasa menahan
nikmat… nafasnya sangat memburu… serta.. Dirinya pun lunglai dalam pelukanku….
Sementara air mani gadis itu mengalir tidak tertahankan, meluap serta mengalir membasahi hingga tahap
perutku.. aku peluk gadis itu di punggungnya… membiarkan ia mengendurkan syaraf seusai ia tadi sangat
tegang menikmati puncak orgasmenya.

Sampai berbagai menit kami tetap berpelukan, kejantananku yang tetap tegang itu tetap berada di dalam
’sangkar’-nya. Nisa diam tidak bergerak dalam pelukanku, sepertinya dirinya lupa ada sesuatu yang bersemayam
dalam tubuhnya.

Perlahan gadisku ini mengatur nafasnya yang tidak teratur. Seusai agak reda… perlahan dirinya bangkit serta
melepas persetubuhan kami. Lambat ia membawa pantatnya ke atas. Perlahan alat kelaminku itu keluar
dari vagina Nisa. Ketika telah keluar seluruhnya…. Cairan vagina yang kental nampak melumuri batang
kemaluanku. Ketika tahap ‘kepala’-nya bakal keluar terdengar seperti bunyi plastik lengket yang basah
akan di lepas..

Clep..crrrllek. Nisa tersenyum mendengar suara itu. Entah suara lipatan kemaluannya alias sebab lendir
yang begitu tidak sedikit melumuri batang kemaluanku.

Ia berangkat ke tengah ruangan serta menggunakan gaunnya kembali, rona wajahnya menampakkan kepuasan yang tiada
terkira. Sambil bernyanyi kecil, seperti baru telah pipis, ia memebenahi rambutnya yang kusut masai.
Dan berlangsung ke belakang rumah, meninggalkanku yang hendak mengenakan celana dalam ku.

Belum pernah aku menggunakan celana itu, tiba-tiba Nisa telah kembali. Membawa sehelai kain sarung serta
menyuruhku mengenakannya. “Pakai ini aja, Kak!” katanya seraya mengambil celana panjang serta kolorku,
melipatnya serta merengkuhnya dalam dada. Kemudian ia pun kembali ke belakang.

Tak lama kemudian ia datang lagi, membawaku segelas minuman, kalau tadi Liani membawakanku segelas air
putih, hari ini Nisa menyuguhiku dengan teh manis. Aku segera mereguknya sebab merasa kehausan,
bayangkan saja melayani dua wanita dengan cara bergilir tanpa istarahat sama sekali. Capek donk!

Ketika aku meminumnya, alis mataku terangkat, minuman apa ini? Rasanya kok pahit banget? Sebelum
sempat bertanya Nisa mengatakan perlahan,

“Itu sari dari akar Pasak Jagad Kak!”

“Haa?

Kekasihku tersenyum, itu kan obat kuatnya lelaki, kalau minum jamu itu tentu bakal melek semaleman,
kataku setelah menelan tegukan terbaru. Gadis itu hanya tertawa kecil. ‘Biar aja nggak tidur
semaleman… besok kalian kan nggak kerja, tidur aja sepuasnya di sini.

Setengah jam kemudian kami tetap ngobrol di ruang tamu. Tetap terbayang-bayang permainan kami berdua
barusan. Tidak disangka begitu bernafsunya Nisa, hingga-sampai kuat main di atas hampir setengah jam
lamanya, sementara aku anteng aja di bawah.

Tiba-tiba Nisa bangkit…

”Kak,” katanya,

“Aku ke dalam sebentar.” Aku mengiyakan saja, kupikir dirinya mungkin mau sedikit merapikan sertadanannya
yang agak amburadul itu.

Aku bakal menghela nafas ketika terdengar dirinya terbuktigilku dari kamar.

“Sini sebentar, Kak!”

Aku pun bangkit serta berlangsung menuju ke kamarnya, sebelum tiba di pintu kamarnya aku melalui kamar
Liani yang hanya dihalangi secarik kain gorden, diam-diam ku singkap tirai kamar itu. Tampak Liani
tertidur pulas, tetap mengenakan gaun yang tadi, pahanya yang terbuka nampak putih serta mulus.

Kamar berikutnya merupakan kamar Silvi, hmmm… jantungku berdegup agak kencang. Apa yang diperbuatnya tadi
ketika aku serta Nisa sedang menikmati seks? Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku pengen tahu sedang apa dia
sekarang?

Perlahan kusingkapkan juga tirai pintu kamarnya itu. Kasur tempat tidurnya tetap tampak rapi, bantal
tersusun di tempatnya. Ke mana cewek itu? Kok nggak ada di biliknya? Sedikit heran aku terus melangkah
menuju kamar Nisa.

“Masuklah, Kak! Jangan malu-malu, aku tahu kalian telah berada di situ.” Kata Nisa lagi, bergegas aku
pun masuk ke kamarnya…

Oh di sini rupanya Silvi, dirinya sedang tidur telungkup di dipan Nisa, sementara cewek ku itu sedang
menyisir rambutrnya menghadap ke cermin. Tanpa mengacuhkan aku dirinya pun menyuruhku duduk di dipan
dengan gerakan tangannya.

Dipan ukuran single itu lumayan sempit, apalagi kini telah ada Silvi yang tidur di sana. Nisa
berbalik menghadapku, ditatapnya aku dengan tajam. Kemudian perlahan dirinya mengalihkan pandangannya ke
tubuh kawannya yang tetap telungkup itu.

“Terserah kamu, Kak. Mau di sini alias di kamarnya…. Aku ikhlas aja, yang penting…. Dirinya dapat juga ikut
merasakan ….”
Aku melongo? Dirinya suruh aku menikmati pula tubuh Silvi!? Tubuh perempuan sintal yang sedang
tertelungkup ini? Nisa mengangguk pasti.

“Kami lihat apa yang kalian perbuat, Silvi pun lihat kami tadi… kami bertiga bersahabat, resminya kamu
terbukti milik aku… tapi.. share antar sahabat tidak ada salahnya, bukan? Lagi pula aku rela kok, selama
tidak dengan yang lain tidak hanya mereka.”

Dalam hati aku cuma dapat membawa bahu. Kalau dirinya telah mengikhlaskan kawannya, dirinya tidak marah
apalagi jadi membenci aku, lagi pula kalau dengan begitu dirinya jadi terangsang serta menikmati juga, apa
salahnya.

Aku berpikir cepat, katakanlah malam ini merupakan seperti sex party, serta aku menjadi rajanya sementara
menjadi ratuku yang wajib kupuaskan, oke saja sih. Hehehe. Kebetulan aku ingin mencobai juga tubuh
Silvi yang berkulit sawo terang ini.

“Aku menantikan di kamarnya,” kataku terhadap Nisa, cewek itu mengangguk setuju.

Dipan singel Silvi terasa lumayan enjoy. Bantalan busanya tetap lumayan baru, dirinya terbukti belum lama kost
di rumah ini, mungkin baru setengah tahun. Aku berbaring dengan rileks. Memandangi dinding kamar yang
dipenuhi poster Nisa sambil memikirkan apa yang telah kudapat malam ini.

Mula-mula Liani menyerahkan dirinya kepadaku, kemudian Nisa yang memintaku untuk memuaskannya, serta
sekarang Silvi, gadis paling pendiam yang jarang ngobrol denganku. Gadis ini pun mengharapkan ku pula…
hehehe.. dasar gede milik, yeuh

Semilir halus wangi parfum masuk ke hidungku.Terdengar pintu kamar terbuka, perlahan Silvi masuk ke
kamar itu. Seperti orang baru bangun tidur. Ia langsung duduk di dipan itu,

“Ada apa, Kak?” tanyanya seolah tidak mengerti.

Aku tersenyum, pandai juga dirinya menyembunyikan perasaan sebetulnya.

“Eh, kain sarung siapa yang kalian pakai itu, Kak?”

“Hehe.. ini pemberian Nisa tadi..”

Kedua bola mata gadis itu membulat… menatapku seolah tidak percaya. Terus terang saja, dirinya cantik juga.
Rambutnya yang ikal itu dibiarkannya tumbuh hingga sebatas punggung. Walau baru bangun ‘tidur’ tapi
tak mengurangi kesegaran serta pesona cantik yang terpancar di wajahnya.

Aku hebat gadis itu ke pelukanku, tubuhnya terasa berat sebab ia seperti menolak, tapi kemudian
malah dirinya yang merangsek dalam dekapanku.

“Jangan , Kak! Kelak Nisa marah..” katanya berbasa-basi.

“Dia marah kalau aku tidak menayangimu juga….”

“Kamu dapat aja, Kak!” katanya sambil menengadah serta menyentuh pipiku.

Aku mengecup bibirnya, dirinya sangat menikati kecupan kecil itu, matanya terpejam, tubuhnya melunglai,
dan aku pun memeluk tubuh sintal itu lebih erat.

Ia membalas pelukanku serta membiarkan bibirnya kulumat… berbagai kali ia mengeluh nikmat. Terasa
tubuhnya bergetar ketika aku mulai merengkuhnya.

Kemudian aku pun mulai menyusuri seluruh lekuk serta liku tubuh gadis itu. Terus lama tubuh itu terasa
panas, setiap gumpalan serta tonjolan dagingnya terasa begitu berkobar dipenuhi gairah terpendam.

Aku menggeletakkan tubuhnya sementara kedua tangannya terus melingkar di leherku. Nafasnya terdengar
agak memburu, gadis ini telah mulai terangsang. Kuperiksa tahap kemaluannya dengan jemariku. Nyatanya
belum lumayan basah, tetap terasa agak kering. Kucumbu dirinya terus supaya gairahnya lebih menggelora

Entah berapa lama kami saling mencium saling menyusup serta berkelindan, aku pulang suka buah dadanya.
Sangat kenyal, besarnya pun sedang saja, tapi putting susunya sangat kecil, hanya sebesar biji kacang
hijau. Tampak sekali putting itu telah mengeras.

Ketika kuremas-remas buah dadanya, wajah gadis itu menengadah, matanya terpejam rapat, bibir agak
terbuka. Setiap remasan merupakan rangsangan bagi tubuh segar ini. Terus intensif aku meremas, terus
intens juga dirinya menikmatinya. Ketika kuraba kemaluannya, lendir pelicin yang kental telah mulai
keluar.

Perlahan aku mengusap-usap jembut halus yang tumbuh di sana. Sesekali agak kutekan supaya menyentuh
bagian klentitnya. Tuibuhnya menggelinjang sebab geli.

Perlahan tapi tentu cairan pelicin itu mulai keluar, merembes ke permukaan serta mengdampakkan jembut-
jembut halus itu terasa mulai kuyup. Hmmm.. Silvi telah siap untuk dimasuki. Sambil memegang pangkal
kemaluanku aku pun memasukkannya. Terasa licin serta rapat. Batang kemaluanku seperti menembus lipatan
daging hangat yang basah oleh lendir.

Creep…. Masuklah aku ke tubuh Silvi. Gadis itu melepas nafas panjang, merasakan nikmatnya gesekan di
kemaluannya. Entah kenapa aku sangat-sangat terangsang dengan gadis ini, mungkin ini bukan yang
pertama baginya, tapi… dirinya meperbuatnya seperti baru untuk pertama.

Sepuluh menit pertama kita memperlawankan rasa, menggesek-gesekkannya dengan gerakan selalu. Sementara Silvi
pasrah saja sambil memelukku serta membenamkan wajahnya di leherku. Nafasnya terus lama terus
memburu, tubuhnya terus panas. Titik-titik keringat mulai keluar serta lama-lama peluhnya terus
membanjir.

Kota kecil ini terbukti lumayan panas walau di malam hari, apalagi rumah kost itu tidak berAC, tubuhku
pun kembali berkeringat. Tapi kita tidak peduli, kita terus berpelukan menikmati pergumulan itu.

Kami tetap bergumul ketika akhirnya memasuki bagian kedua. Kukeluar-masukkan penisku dengan cara berirama di
liang kemaluannya yang pasrah itu. Gadis itu memelukku lebih kuat. Tidak peduli dengan tubuh yang
bersimbah peluh.

‘Crekecrekecrek…’. Sepuluh menit lamanya aku menggesek-gesek kemaluan Silvi dengan kemaluanku. Terasa
punyaku terus menegang keras. Kemudian aku menekan… Silvi membalas dengan mengempot ke atas.
Menggerakkan pinggulnya berputar-putar, ganas sekali putarannya. Aku naik turunkan lagi pantatku
berbagai kali, kemudian kutekan dalam-dalam….

“Ahhh…,” gadis itu mendesah nikmat.

Kemudian membalas lagi dengan tekanan ke atas, sambil menggoyang pantatnya ke kiri serta kekanan.
Lipatan kemaluannya yang hangat terasa terus kenyal serta licin.

Berbagai kali kita meperbuat itu, aku pun jadi tidak tahan. Tapi dirinya belum mencapai puncak. Aku akan
membikin dirinya duluan merasakan kenikmatan.

Aku pun terus aktif mengocok serta menekan memek Silvi. Tulang kemaluan kita beradu, bibir kemaluanya
yang tebal menahan tekanan itu dengan nafsu, terasa hangat serta sangat basah sebab lendir mani Silvi
telah membeludak sedari tadi.

Dua menit kemudian gadis itu melolong merasakan vaginanya berdenyut nikmat..

“Ooohhhhh….”

Aku menolongnya dengan menekan terus dalam. Silvi pun membenamkan tubuhnya ke kasur, menahan
tindihanku sambil melepas nikmat, seiring dengan mengalirnya air mani prempuan itu dengan lebih deras.
Merembes dari lipatan-lipatan kemaluannya.

“Enak sekali, Kak…eigh oh…!”

Berbarengan dengan itu bakal pun mencapai puncak. Kemaluanku terasa berkedut seiring dengan
menyemburnya air maniku di liang senggama gadis itu. Sementara liang senggama Silvi pun menggepit-
gepit tidak terkendali sebab tidak kuasa menahan nikmat yang luar biasa.

Kami tetap berpelukan ketika rasa nikmat itu tercapai telah. Gadis itu diam dalam pelukanku, tubuhnya
sangat basah oleh peluh. Hawa panas pun terasa menyergap. Berangsur kita saling melepas pelukan.

Perlahan gadis bangkit itu duduk dari posisinya. Gurat-gurat kepuasan terpancar di wajahnya yang
cantik. Sekilas ku lihat memek Silvi yang tetap merah serta bibirnya tampak membengkak, cairan-cairan
lendir tetap menetes dari sela kemaluannya.

“Enak, Silvi?” gadis itu mengangguk.

Kemudian ia mengusap keringat yang menitik di dadaku.

“Dadamu penuh dengan peluh, Kak. Sini kuusap,” katanya sambil mengelus lembut dadaku yang terbukti penuh
dengan keringat.

Berbagai saat lamanya kita kemudian berbaring bersama di kasurnya yang sempit itu. Rambutnya yang ikal
dan panjang itu kubelai. Ia bergerak, menyusupkan tangannya di leherku, kemudian memintaku terlentang,
dia ingin tidur di dadaku, katanya. Berbagai saat kemudian Silvi pun jatuh tertidur, tidak menyadari air
liurnya yang menitik dari aspek bibir. Aku pun segera terbang ke alam mimpi.

Entah jam berapa kita terbangun. Ketika itu aku serta Silvi tetap berpelukan, sementara di luar
terdengar suara-suara semacam sedang bernyanyi. Oh, nyatanya hari telah siang. Itu merupakan suara Nisa
yang sedang bernyanyi kecil, sementara di kejauhan terdengar suara orang sedang mandi, barangkali
Liani sedang membersihkan tubuhnya.

Silvi pun telah mulai terjaga, ia tetap memelukku, buah dadanya yang kenyal itu menempel erat di
dadaku. Dari ruang tengah terdengar Nisa semacamnya sedang menyapu lantai. Sementara dari bibirnya
terdengar nyanyian yang kini sedang terkenal.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, kemudian gorden disingkapkan, serta masuklah Nisa ke dalam
kamar, menatap kita yang tetap bugil hanya berselimut kain sarung.

“Hei, bangun! Belum puas juga ya!”

Aku pura-pura tidur sambil memeluk Silvi lebih erat. Gadis itu terkikik… tapi dirinya juga pura-pura
meneruskan tidurnya. Nisa berlagak marah serta luar biasa kain sarung penutup tubuh kami.

“Apa mau diteruskan lagi tidurnya? Udah siang tauu,”

Aku luar biasa kain sarung itu, malu sebab kemaluanku sedang menegang seusai beristirahat total
berbagai jam. Tapi kalah cepat, Nisa telah meringkus batang kemaluanku serta mengusap-usap dengan
jemarinya.

“Oh, jauh lebih besar dari gagang sapu ini… pantesan enak sekali.” Guraunya sambil tergelak sendiri.

“Ya udah, kalau kalian pengen lagi, Silvi. Tuh mumpung lagi berdiri…”

Hampir tidak kuat aku menahan tawa dengan canda Nisa, tapi tampaknya Silvi menanggapinya dengan serius,
dia menggerakkan pantatnya, memelukku dari atas serta mengempot ke bawah. Bibir kemaluannya terasa
menempel di batang kemaluanku.

“Tuuh, kan! Tentu mau lagi deh! Terusin aja, Silvi. Enak kok!” sergah Nisa sambil memegangi pinggang
gadis itu, menolongnya membawa panta, aku pun memegang pangkal kemaluanku,
menghadapkannya ke memek Silvi yang hangat.

“Udah pas belum?” tanya Nisa, Silvi mengangguk, perlahan Silvi menurunkan pantatnya, maka….
Srrluuuup.. batang kemaluanku masuk lagi ke memek Silvi.

“Main dari atas enak, lho Silvi! Tekan aja biar lebih kerasa…” bisik Nisa agak keras.

Semacam tidak peduli keberadaan Nisa di kamar ini, kita mengulangi permainan semalam, tapi hari ini
Posisi Silvi ada di atas. Kusuruh gadis itu menegakkan tubuhnya. Ia menurut serta mendorong tubuhnya
dengan meletakkan telapak tangannya di dadaku.

Sekarang posisinya berubah, aku berbaring sementara Silvi duduk mengangkang di atasku. Alat kelamin
kami telah menyatu, ketika ia telah duduk dengan benar, nampak memeknya semacam sedang mengulum
kemaluanku hingga ke pangkalnya. Kelentitnya nampak menonjol serta cairan itu kembali mengalir membasahi
jembut-jembut halusnya.

Kami saling pandang sementara tetap bersatu, bibir Silvi tersenyum, berbagai kali ia menyibakkan
rambutnya yang kusut. Perlahan dirinya mulai mengayun, gerakanya semacam orang sedang naik kuda. Naik
turun berirama.

Semenit aku lupa dengan keberadaan Nisa di sana. nyatanya ia berdiri di belakang Silvi, memperhatikan
kami yang sedang bercinta dengan gaya semacam itu. Gadis itu menyeringai lebar menampakkan sederetan
giginya yang putih bersih.

Kemudian tiba-tiba ia membuka bajunya, menampakkan beha putih dengan buah dada besar di baliknya. Ia
pun membuka beha itu, melemparkannya ke aspek kamar, luar biasa rok panjang, membuka celana dalam hingga
akhirnya bugil sama sekali.

Ia pun menyerbu ke arahku, membenamkan wajahku di susunya yang besar serta kenyal, meremas-remas
kepalaku dengan jemarinya. Sementara Silvi terus asyik mengayun-ayunkan pantatnya naik turun.

Aku memeluk punggung Nisa, mengulum serta mengunyah susunya yang kenyal. Cewek itu mendengus-dengus
ketika putting susunya tergigit lembut.

Lama kita bercinta segitiga semacam itu, mungkin ada seperempat jam.

“Kita enak-enakan bareng, Kak.” Bisik Nisa sambil meremas.

Aku setuju, dirinya telah hampir hingga puncak, aku pun tidak tahan dengan ulah Silvi, yang mengocok-ngocok
dari atas….

Nisa melepas pelukannya serta naik ke atas ranjang, mendudukkan pantatnya di dadaku mengangkang lebar
menampakkan memeknya yang tercukur rapi. Gundukan dagingnya putih mulus serta kemerahan, bibir
kemaluannya tebal serta dipenuhi cairan kental serta hangat.

Ia memajukan memeknya jadi hingga di mulutku. Kemudian mulai menekan ke arah mukaku.
“Ahh… ayo Kak! Aku udah gak tahan lagi nih.”

Sambil meremas pinggang serta pantatnya aku pun beraksi. Mengganyang habis kue pie lembut serta basah itu.
Nisa segera merintih-rintih ingin segera melepas nikmat. Sementar di belakangnya Silvi tiba-tiba
mengempot serta menekan ke bawah,. Tubuhnya ambSilvi ke depan, menimpa punggung Nisa yang sedang menekan
mukaku.

Wajahku terus tertekan oleh gumpalan memek Nisa, sementara pahanya menggepit kedua pipiku dengan
kuatnya. Akkkh… aku hampir tidak dapat bernapas. Ya ampun!

“Keluarin bareng, Kak! Aghhh.. ahhh!”

Nisa menekan, Silvi mengempot, serta… aku sesak nafas!

Terdengar suara rintihan panjang berbarengan, Nisa serta Silvi sedang dirasuki kenikmatan. Terasa memek
Silvi berdenyut-denyut sembari melepaskan cairan kewanitaannya, sementara mulutku terus basah oleh
cairan memek Nisa yang juga berdenyut melepas nikmat.

Kedua tubuh cewek itu lunglai seusai menikmati segalanya. Mereka roboh berbarengan ke tubuhku. Berat
sekali rasanya menahan dua tubuh perempuan sekaligus, montok-montok lagi.

Semacam menyadari faktor itu, Nisa serta Silvi pun bangkit, perlahan Nisa turun dari ranjang, sementara
Silvi pun perlahan membawa pahanya, kedua tangan bertumpu pada dadaku.

Saat itulah kemaluanku keluar dari liang sanggamanya, cleep.. terdengar semacam bunyi plastik lengket
yang sedang dibuka. Tampak kemaluanku tetap menegang serta basah bergelimang cairan memek Silvi.

Aku terdiam sejenak, tidak tahu wajib berbuat apa, sebab aku belum lagi mencapai puncak gadis-gadis ini
telah menghentikan permainnya, ketika itulah tiba-tiba Liani masuk ke dalam kamar, menonton kepada
Silvi serta Nisa yang sedang mengenakan pakaiannya kembali.

Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arahku, matanya terpaku menatap kejantananku yang tetap berdiri
dengan perkasa, merah serta mengkilat bermandikan cairan kemaluan Silvi.

“Kasihkan sama Liani, Kak!” kata Nisa sambil menyempalkan susunya yang montok itu ke balik beha.
Wajah Liani semburat memerah. Mungkin dirinya tadi mendengar lolongan Nisa serta Silvi yang berbarengan
menahan geli serta enak. Aku tidak tahu apakah dirinya juga telah terangsang serta ingin di gelitik nikmat lagi?

Tampaknya iya, ia membawa roknya menampakkan kedua paha yang padat serta putih mulus. Sementara Silvi
dan Nisa bergegas keluar kamar, meninggalkan kita berdua saja di sana. semerbak wangi harum tubuh
Liasni menusuk hidungku. Gadis ini baru berakhir mandi.

Liani naik ke ranjang bersiap-siap hendak memasukkan kejantananku ke memeknya yang, ya ampun, nyatanya
telah bengkak merekah merah serta basah pula. Tapi siapa tahan menahan tubuhnya yang tinggi montok itu
seusai tadi ditindih oleh dua gadis montok sekaligus.

Aku bangkit duduk, mendorong sedikit tubuh Liani, gadis itu semacam kaget. Tapi dirinya menurut. Kemudian
kusuruh ia berdiri serta … ini dirinya aku ingin merasakan sesuatu yang lain.

Kusuruh ia berdiri membelakangiku serta menumpukan tangannya di dipan. Posisinya kini menungging di
depanku, Liani mengerti, ia membawa pantatnya lagi, dari belakang disela-sela bongkahan pantatnya,
nampak kemaluannya membelah. Cairan kental menitik-nitik tidak sedikit sekali.

Meski nafasnya ditahan, aku tahu gemuruh di dadanya telah sedemikian hebat. Tampak dari buah dadanya
yang menggelantung itu bergetar-getar menahan dentaman jantungnya yang meningkat dahsyat.

Aku ingin masuk dari belakang serta kemaluan Liani telah siap untuk kutusuk dari arah itu. Liani terus
menunggit menampakkan bongkahan pantat serta memek yang merekah. Aku maju menyorongkan kejantananku ke
arah belahan nikmat itu. Creepp.. kejantanankupun coba menerobos serta berusaha keras memasuki liang
senggama Liani yang terbuka. Tapi gumpalan pantat Liani lumayan menahan gerakananku.

Egghh.. aku mencoba lagi serta menekan lebih kuat ke depan. Akhirnya… masuk juga. Oh, rasanya semacam
dipilin-pilin. Aku menekan lagi… kemaluan kita terus berjalin, tapi bongkahan pantat Liani seolah
menahan gerakanku jadi aku wajib menekan agak lebih kuat.

“Emhh….” rintih Liani tertahan. “Tekan , Bang…. Emmghhh”

Aku bergerak maju mundur serta menekan-nekan, sekujur batang kemaluanku rasanya semacam dicengkram.
Sambil agak membungkuk aku mencoba meraih buah dada Liani, meremas keduanya dari belakang.

Hangat besar serta sangat kenyal. Putingnya kuputar-putar dengan dua ujung jari. Membikin gadis itu
menggelinjang luar biasa serta terus membawa pantatnya tinggi-tinggi supaya kejantananku masuk lebih
dalam.

Tubuh kita terus berkeringat ketika rasa enak itu terus memuncak. Aku pun menekan serta menggosok-
gosok lagi dinding memek Liani yang merapat.

Agak susah main dari belakang, tapi kita menikmatinya. Berbagai manit kita menikmati permainan itu.
Tubuh Liani maju mundur tertekan oleh gerakan tubuhku.

Ketika sedang asyik tiba-tiba gorden kamar kembali terkuak. Sosok tubuh Silvi masuk berkelebat,
semacam tidak memperhatikan kita gadis itu menuju ke ujung dipan, nyatanya celana dalamnya ketinggalan
di sana.

Kami tidak mempedulikan kehadirannya serta terus saling menekan. Aku menekan ke depan sementara Liani
menekan ke belakang. Kemaluan kita telah begitu menyatu erat bermandikan cairan kental. Tubuh kita pun
menegang serta basah oleh keringat yang membanjir. Rasa nikmat terus meningkat, terus lama terus
hebat.   Bandar Q

“Aghhh…hhhh” aku menggeram menahan rasa.

Denyutan-denyutan penuh rasa nikmat menyerang kemaluanku. Liani merintih tidak kalah dahsyat… bahkan
lebih luar biasa dari erangan Nisa serta Silvi berbarengan.

“Bang… agh! Enak banget,…oh Aku gak tahan lagi!”

Samar kulihat Silvi mengenakan celana dalamnya…. Ketika itu pula aku serta Liani saling menekan hebat…
menahannya serta merasakan detik-detik penuh kenikmatan. Nafas Liani melenguh-lenguh, keringat
bercucuran dari sekujur tubuhnya. Memeknya menyempit serta … srrr….. keluar banjir yang hebat. Tubuhnya
bergetar menahan rasa geli yang menarik. Aku pun menekan terus dalam.

“Mmhhh…” berkali-kali kemaluanku semacam meledak dalam cengkraman memek Liani.
Berkali-kali pula lipatan kemaluan gadis itu menyempit serta menggenggam kemaluanku kuat-kuat ketika ia
pun melepas nikmat di pagi nan cerah itu.

Silvi mendehem kecil ketika kita menyudahi permainan itu dengan rasa puas. Liani menjatuhkan tubuhnya
yang basah oleh titik keringat di dipan, menelentang dengan nafas tetap terengah-engah. Bibir
kemaluannya nampak membengkak, merah serta berkilat penuh dengan lendir. Silvi pun diam-diam keluar dari
kamar, di dekat pintu ia menyibakkan rambut ikalnya, menjeling ke arahku, seusai itu ia pun berlalu.-

Hello World!:

- aaaa


Menuju Forum: