Rating Thread:
  • 0 Memberi Suara - 0 Rata-rata
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Cerita Sex Hot Tante Lesbi
#1
Cerita Sex Hot Tante Lesbi

[Gambar: Cerita-Sex-Terbaru-Tante-Lesbi.jpg]

Aku suka menulis cerita sex tentang sesama jenis dimana kisah percintaanku yang kutulis ini buka yang
pertama kali, aku suka berpetualang cinta kali ini aku akan menceritakan kisah seksku yang pertama
dengan teman ibuku , kejadian ini tidak aku sangka diman aku baru saja masuk kelas 1 SMU dan saat itu aku tinggal di Yogya

Ibuku mempunyai teman namanya Ibu Dasha aku sering memanggilnya dengan tante Dasha hubungan kami
sungguh sangat dekat aku anggap sudah sebagai saudara sendiri di rumahku.tante Dasha mempunyai wajah
yang cantik wajahnya lebih muda ketimbang ibuku memang karena usianya juga cukup jauh. Usia Tante
Dasha ketika itu sekitar 28 tahun. Selain cantik, Tante Dasha memiliki tubuh yang langsing, namun
padat dan seksi.

Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena
ada perayaan pernikahan saudara.

Karena aku dan Tante Dasha cukup dekat maka aku minta kepada ibuku untuk menginap saja di rumah Tante
Dasha yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Dan kebetulan suami Tante Dasha juga sedang di
luar kota, karena memang suaminya sering sekali ditugaskan ke luar kota, sehingga Tante Dasha sering
sendirian di rumah.

Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria atau shopping berdua dengan
Tante Dasha, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang
Tante Dasha orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.

Ketika suatu hari, sehabis makan siang, tiba-tiba Tante Dasha berkata kepadaku,

“Sar.. kita main dokter-dokteran yuk.. sekalian Sari Tante periksa beneran, mumpung gratis..”
Memang kata Ibuku, dahulu Tante Dasha pernah kuliah di fakultas kedokteran namun putus di tengah jalan
karena menikah.

“Ayoo..” sambutku dengan senang hati.

Kemudian Tante Dasha mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia
mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.

“Nah Sar, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang,” bisik Tante Dasha.

“Baik Tante,” kataku,

lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.

Namun Tante Dasha bilang,

“Lho.. BH-nya sekalian dibuka dong, biar Tante gampang meriksanya..”

Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah
dadaku yang masih mengkal.

“Wah.. kamu memang benar-benar cantik Sar..” kata Tante Dasha.

Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.

Setelah terlentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Tante Dasha mulai memeriksaku.
Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin.., lalu Tante Dasha menyuruhku
bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Tante Dasha mencopot stetoskopnya.

Kemudian Tante Dasha tersenyum kepadaku, sambil tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya
dengan lembut,

“Waah.. kulit kamu halus ya, Sar.. Kamu pasti rajin merawatnya,” katanya.

Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Tante Dasha. Kemudian usapan Tante Dasha
bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Tante Dasha merayap mengusap perutku.

Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Tante Dasha benar- benar terasa lembut,
dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu
tanganku merinding dibuatnya.

Lalu Tante Dasha menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap
mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.. baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya
halus, lembut dan geli, bercampur menjadi satu.Cerita Sex Terbaru

Namun tidak lama kemudian, Tante Dasha menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini
perbuatannya. Tapi kemudian Tante Dasha bergerak ke arah kakiku.

“Nah.. sekarang Tante periksa bagian bawah yah..” katanya.

Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa
mengangguk pelan saja.

Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Tante Dasha menarik dan meloloskan celana
dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati,

” Ih.. Tante, kok celana dalam Sari dibuka..?” kataku dengan gugup.

“Lho.. khan mau diperiksa.. pokoknya Sari tenang aja..” katanya dengan suara lembut sambil tersenyum,
namun tampaknya mata dan senyum Tante Dasha penuh dengan maksud tersembunyi.
Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah celana dalamku diloloskan oleh Tante Dasha, Tante Dasha duduk bersimpuh di hadapan kakiku.
Tante Dasha tak berkedip menatap liang kewanitaanku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih
sangat halus dan tipis.

Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Tante Dasha
mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan
meraba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.. aku jadi merinding rasanya.

“Tante..” suaraku lirih.

“Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa enak..” katanya sambil tersenyum.

Tante Dasha lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian,
dengan jari telunjuknya yang lentik, Tante Dasha menggesekkannya ke bibir kemaluanku dari bawah ke
atas,

“Aaahh.. Tantee..” jeritku lirih.

“Ssstt.. hmm.. enak kan..?” katanya.

Mana mampu aku menjawab, malahan Tante Dasha mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-
ulang. Tentu saja ini membuatku makin nggak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, mengeliat-ngeliat
kesana-kemari.

“Ssstthh.. aahh.. Tante.. aahh..” eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku
bagaikan terbang ke langit.

Liang kewanitaanku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar terangsang sekali.

Setelah Tante Dasha merasa puas dengan permainan jarinya, Tante Dasha menghentikan sejenak
permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang antara sadar dan tidak sadar,
hanya bisa melihatnya pasrah.

Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya
geli-geli, lembut dan basah. Namun Tante Dasha bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku
sambil memainkan lidahnya.

Hii.. rasanya jadi makin geli apalagi ketika lidah Tante Dasha memancing lidahku, sehingga aku tidak
tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Tante Dasha saling bermain,
membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.

Kemudian Tante Dasha mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah apa lagi pikirku, aku toh
sudah pasrah. Dan eh.. gila.. Tante Dasha menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku
diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Tante Dasha.

Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Tante Dasha mulai menjilati bibir kemaluanku.
“Aaa.. Tantee..!” aku menjerit, walaupun lidah Tante Dasha terasa lembut, namun jilatan Tante Dasha
itu terasa menyengat liang kewanitaanku dan menjalar ke seluruh tubuhku,

Namun Tante Dasha justru menjilati habis-habisan bibir kemaluanku, lalu lidahnya masuk ke dalam liang
kewanitaanku dan menari-nari di dalam liang kewanitaanku.

Lidah Tante Dasha mengait-ngait kesana-kemari menjilat-jilat seluruh dinding kemaluanku. Tentu saja
aku makin menjadi-jadi, menjerit-jerit tidak karuan,

“Aaahh.. Tantee.. aa.. auu.. aahh..!”

Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana-kemari merasakan kegelian bercampur
dengan kenikmatan yang amat sangat. Namun Tante Dasha dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara
pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana-kemari, namun Tante Dasha tetap mendapatkan yang
diinginkannya.

Jilatan-jilatan Tante Dasha benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, liang kewanitaanku
sudah benar-benar banjir dibuatnya, membuat Tante Dasha menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-
jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot liang kewanitaanku.

Cairan lendir liang kewanitaanku bahkan disedot Tante Dasha habis-habisan. Sedotan Tante Dasha di
liang kewanitaanku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.

Kemudian Tante Dasha sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir kemaluanku, lalu
disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Tante Dasha, rupanya Tante Dasha
mengincar klitorisku. Tante Dasha menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya klitorisku,

“Aaahh..” tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu
bagian yang paling sensitif buatku.

Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Tante Dasha malah menekan pahaku ke
bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati klitorisku sambil dihisap-hisapnya,

“Aaa.. aauuhh.. aahh..!” jeritku semakin menggila.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang amat sangat, yang ingin keluar dari dalam liang kewanitaanku,
seperti mau kencing, dan aku tak kuat menahannya, namun Tante Dasha yang sepertinya sudah tahu,
malahan menyedot klitorisku dengan kuatnya sehingga,

“Tantee.. aahh..!” tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar
kujepit dengan kuat pipi Tante Dasha dengan kedua pahaku di selangkanganku.

Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan liang kewanitaanku, banyak sekali dan
tampaknya Tante Dasha tidak menyia- nyiakannya, disedotnya liang kewanitaanku, dihisapnya seluruh
cairan yang keluar dari liang kewanitaanku. Tulang-tulangku terasa lolos, lalu tubuhku terasa lemas
sekali.

Tante Dasha kemudian memelukku, lalu mengecup bibirku.

“Gimana Sar.. enak khan..?”

Namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil
tersipu malu. Aku tidak percaya bisa diperlakukan begini oleh Tante Dasha, dan tidak pernah kusangka,
karena sehari-hari Tante Dasha tampak begitu cantik dan anggun. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas
terlelap di pelukan Tante Dasha.

Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk
dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Tante Dasha telah berupaya
menenangkanku dengan lembut.

Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, abisnya kalau
diingat-ingat sebenarnya enak sich hi.hi.hi.. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Tante Dasha,

Tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya Tante
Dasha menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk
malu-malu.

Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakali aku merasakan yang namanya seks. Setelah pengalamanku
dengan Tante Dasha itu barulah aku mulai bertualang dimana akhirnya aku mau mencoba bercinta dengan
lain jenis.-



[Gambar: bandarqq365-header.gif]

Hello World!:

- aaaa


Menuju Forum: